Pada Ujung Senja

Pada ujung senjaMu kutawajjuhkan diri

melukis mega dengan seribu warna air mata.

Kiranya sepenggal riwayat ini kan menjadi indah bersamaMU.

Ya Rab…, sang penguasa abad

Demi waktu yang telah kau titipkan, sungguh kami sadar betapa semua harus kami kembalikan. Namun hingga kini kami belum memperbaharui seperti sedia kala

Rasanya tak ada alasan bagi kami untuk beralibi, bersembunyi di balik ketidak mampuan diri. Meski itu satu-satunya yang pas buat bekal menghadap dan menujuMu, untuk sekedar tidak mengatakan bahwa kami tidak berani atau enggan menghadapMu.

Ya Rahman ya Rahim…

Kalaulah bukan karena hasrat hati untuk terus merindui dan betapa kami ternyata hanya sendiri kecuali bersamaMu, niscaya kami telah menjauh dan mencarai selain Engkau. Dan yang paling kami berani untuk mendekat kembali, bahwa Cinta dan Kasihmu mengatasi segala kebencian-kebencian dan penghianatan-penghianatan, tidak hanya dari kami melainkan seluruh lanskap jagad dan para penghuninya sekalipun.

Untuk itu kumohon tebarkan benih kembang cinta dalam setiap jengkal langkah kami. Dan sirami dengan zam-zamMu agar mekar mawar semerbakkan batin kami.

Wahai … zat pemangku hari

Pada perjalanan matahari kami mengorbitkan asmamu. Meski kami tidak pernah mengetahui, akankah sampai pada keharibaanMu. Hingga desau angin timur ini benar-benar akan terantuk pada keheningan kiblatMu. Bersujud di geladak musim yang beribu cuaca. Mentahbiskan keyakinan bahwa terang rembulanMu masih akan terus ruapkan cahaya kedamaian dalam jiwa kami.

Ya quddus….

Dengan setes air mata kami tasbihkan riwayat. Agar setidaknya bisa menjadi alamat bahwa diteras depan rumah akhirat ini kami telah meneguhkan niat untuk selalu mentauhidkanMu. Barangkali esok hari air mata itu menjelma anak sungai untuk kami membasuh dan membersihkan hati dan pikiran kami dari segala noda-noda hayat. Hingga kebeningan kembali menuntun pada arah pusara ka,bah. Tempat mangkal ruh-ruh suci.

Pada ujung senjaMu ya Rabb…kutawajjuhkan diri

melukis mega dengan seribu warna air mata.

Kiranya sepenggal riwayat ini kan menjadi indah bersamaMU

~ oleh Rudi Hermawan pada April 25, 2008.

2 Tanggapan to “Pada Ujung Senja”

  1. hei klo ngambil puisi kasih marojiknya, dong….

  2. Waduuh… Sorry masaly, saya lupa. Ok, saya akan revisi tuh puisi. He…He… Oia, pean skrng tinggal dmn? Aq cr2 ke al-hijrah, ktnya udah pindah. Trus hp pakai kartu apa? Sms ke nomerku ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: